Faktualnewstv.com Pesawaran,-Integritas seorang wakil rakyat kembali diuji, dan kali ini rapor merah tampaknya layak disematkan di dada oknum Anggota DPRD Kabupaten Pesawaran berinisial Trisna Mahardika (TM). Bukan karena kinerjanya di gedung parlemen, melainkan karena skandal asmara terlarang yang mempertontonkan arogansi kekuasaan terhadap seorang wanita yang tak berdaya.
Kisah ini bukan sekadar drama perselingkuhan biasa. Ini adalah potret nyata bagaimana janji manis seorang pejabat publik bisa menghancurkan mata pencaharian seseorang, lalu membuangnya begitu saja bak “habis manis sepah dibuang”.
Korban, seorang mantan Pemandu Lagu (PL), atau Ladies Companion (LC) inisial RM, kini harus menelan pil pahit. Awalnya, hubungan terlarang itu dibangun di atas janji jaminan hidup. TM alias Dika, sang legislator dari Partai Nasdem DPRD Pesawaran, yang juga mantri desa itu meminta korban berhenti dari pekerjaannya di dunia hiburan malam. Sebagai gantinya, AM berjanji akan menafkahi dan menanggung hidup sang wanita.
Bahkan untuk meyakinkan, RM ikut dibowong saat AM Studi Banding keluar kota. “Waktu Studi Banding ke Jogja, saya diajak. Tiga hari kami disana, bukan lagi pacaran tapi sudah seperti suami istri. Jadi saya yakin atas janji janjinya,”saat di konfirmasi madia
Terbuai janji seorang “Tuan Dewan”, korban menuruti permintaan itu. Ia berhenti bekerja, memutus sumber pendapatannya sendiri, demi sebuah komitmen yang dia kira tulus. Namun, realitas tak seindah janji kampanye. Nafkah yang dijanjikan tak kunjung datang, meninggalkan korban dalam ketidakpastian ekonomi setelah “karpet merah” ditutup rapat oleh sang oknum.
“Saya sudah berhenti kerja, bahkan saat saya mencoba kerja ditempat lain, juga dilarang. Tapi semua janji-janji cicilan motor dan cicilan lain, selama ini memang dia yang bayar. Tapi setelah itu tidak ada kabar,” katanya.
Menurut RM awalnya hubunganya baik-baik saja. Karena saya keluar dan berhenti kerja, pihak tempat RM bekerja merasa tidak terima, dan berusaha menghancurkan hubunganya RM dengan Dika. “Pihak perusahaan itulah yang membocorkan hubungan kami dengan istrinya. Jadi saya diminta sabar karena ingin nenangkan istrinya, tapi sampai kini cuma PHP. Maka saya nekat datang kesana, cuma nagih janji dan minta tanggung jawab janjinya, bukan mau merebut suami,” ujarnya.
RM menceritakan Cafe Royal By Pass Awal Agustus 2025, langsung berhubungan layak suami istri, sering di Apartemen. Lalu berlanjut akhir September 2025 di Jogja. Setelahnya berlanjut ke Hotel bahkan ke kosan. “Setelah itu dia banyak cerita dan menjelek jelekkan saya dengan bos tempat kerja hingga teman-teman lain,” katanya kesel.
Dari Penelantaran Menuju Persekusi
Puncak arogansi terjadi ketika korban mencoba menagih tanggung jawab. Alih-alih mendapatkan solusi atau pembicaraan baik-baik, kedatangan korban justru disambut dengan intimidasi. Bak dikeroyok di kandang lawan, korban mengaku mengalami persekusi. Tidak tanggung-tanggung, AM diduga melibatkan istrinya dan tiga orang lainnya untuk menyudutkan korban.
Lima lawan satu. Seorang wanita yang datang menuntut hak atas janji yang dilanggar, justru pulang dengan trauma akibat tekanan psikis dan intimidasi fisik. Bukti-bukti kedekatan berupa foto mesra hingga dokumentasi tidur bersama yang kini dipegang korban menjadi saksi bisu bahwa hubungan itu pernah ada, dan janji itu bukan isapan jempol semata.
“Waktu itu saya dijanjikan untuk bertemu. Tapi saya dijebak, saya didatangi lima orang, dia bawa istri dan teman-temannya. Jadi dikata-katain, dibilang Jxbxng, Lxnte, dan sebagai mana. Bahkan saya sempat dipaksa menghapus semua foto-foto dan vidio. Tapi saya tidak mau. Kepalan saya sudah rusah dan hancur, tubuh saya dinikmati sesuka hati, tapi janjinya palsu dan mau enak sendiri,” Ujarnya.
Kini, dengan membawa serpihan harga diri yang tersisa, korban melaporkan kasus ini ke Polda Lampung, berharap hukum tidak tumpul ke atas. Pernyataan Nir-Empati Yang paling menyayat hati publik barangkali adalah respons AM menanggapi kekacauan ini. Dengan enteng, ia melontarkan pernyataan bahwa prioritas utamanya adalah “masalah dengan istri sudah selesai”.
“Alhamdulillah sudah kelar sama istri saya. Jadi saya sudah tenang sekarang. Soal laporan sudah dapat kabar dari polres bang. Ikut aja proses hukum. Tanggapan saya, intinya saya sudah baikan sama istri. Ini yang lebih penting,” kata Dika saat dikonfirmasi media
Sebuah pernyataan yang egois dan nir-empati. Seolah-olah nasib korban—yang kehilangan pekerjaan karena permintaannya dan dipersekusi karena ulahnya—hanyalah kerikil kecil yang tidak penting. Bagi sang Dewan, selama posisi aman di rumah dan di mata istri (secara formal), maka korban yang terlantar di luar sana bukanlah urusan yang perlu pusingkan.
Sumber lain menyebutkan Dika mengaku justru sebaliknya, menuding pihak RM telah berulang kali melakukan hal-hal yang arahnya meminta uang. Karena sudah tidak tahan makanya Dika menceritakan semua kepada istrinya. Namun hal itu dibantah RM, yang menyebut itu akal akal Dika untuk menghindar. “Inikan urusan berdua tapi malah bawa-bawa orang lain. Pake jelek-jelekin saya,” katany tegas.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi Badan Kehormatan (BK) DPRD Pesawaran dan Partai Nasdem. Perilaku AM melanggar norma kepatutan sebagai pejabat publik atau etika publik. Jika pada satu wanita saja ia bisa ingkar janji (soal nafkah), bagaimana publik bisa percaya ia akan menepati janji politiknya pada ribuan konstituen?.
Sikap melakukan persekusi bersama-sama terhadap satu orang warga sipil adalah bentuk premanisme, bukan perilaku wakil rakyat yang terhormat. Polda Lampung kini memegang bola panas. Publik menanti, apakah hukum mampu menyentuh kerah baju sang anggota dewan, ataukah kasus ini akan menguap seperti janji-janji manis yang pernah diucapkan AM kepada korbannya.
Wartawan coba menghubungi Badan Kehormatan (BK) DPRD Pesawaran, dan meminta tanggapan DPD Nasdem Pesawaran atau DPW Lampung terkait perilaku kadernya yang mencoreng citra restorasi.

